Harga Premium Hari ini Rabu, 26 April 2017

Harga Premium Hari ini – Bahan Bakar Premium Dihapus Secara Bertahap Di Indonesia dikenal beberapa jenis bahan bakar minyak yang secara resmi dikeluarkan oleh Pertamina, BUMN Pemerintah yang bergerak di bidang minyak dan gas. Jenis-jenis bahan bakar kendaraan bermotor tersebut di antaranya: Premium, Solar, Pertamax serta produk-produk baru termasuk Pertalite, Pertamina Dex, Dexlite, dan Pertamax Turbo. Demi kepuasan konsumen di seluruh negeri, Pertamina terus melakukan inovasi-inovasi baru dan meningkatkan kualitas produk mereka.

Di antara semua produk tersebut, Premium adalah yang populer di kalangan masyarakat Indonesia. Seiring dengan mudahnya kredit kendaraan bermotor, jumlah sepeda motor dan mobil di Indonesia meningkat dengan sangat pesat selama sepuluh tahun terakhir. Kendaraan bermotor keluaran tahun 2000 dan setelahnya menggunakan bahan bakar bensin (Premium) atau yang kualitasnya lebih tinggi. Demi efisiensi ekonomi, Premium menjadi pilihan terbaik bagi masyarakat. Selain harga Premium yang terjangkau, Premium termasuk ke dalam jenis bahan bakar minyak (BBM) yang disubsidi oleh pemerintah.

Dikutip dari laman Wikipedia, Premium adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna kekuningan yang jernih. Premium merupakan BBM untuk kendaraan bermotor terpopuler di Indonesia. Premium secara resmi dipasarkan oleh Pertamina dengan harga yang relatif murah karena subsidi yang diberikan oleh pemerintah melalui APBN. Premium adalah BBM dengan Research Octane Number (RON) terendah di antara bahan bakar kendaraan bermotor lain. Jumlah RON Premium hanya mencapai angka 88. Premium banyak digunakan oleh kendaraan bermesin bensin seperti mobil, sepeda motor, dan kendaraan lain.

Lihat juga: Harga Pertamax hari ini

Harga Premium memang relatif murah jika dibandingkan dengan Pertalite atau Pertamax. Namun bukan berarti Premium tidak memiliki kelemahan. Karena jumlah RON yang rendah, Premium lebih boros dibandingkan dengan bahan bakar lain. Pembakaran bahan bakar jenis Premium berjalan relatif cepat sehingga bahan bakar juga akan lebih cepat habis. Premium menggunakan tambahan pewarna (dye) kuning sehingga cairan Premium berwarna kekuningan. Selain itu, polusi berupa Nox dan Cox yang dihasilkan oleh Premium juga lebih banyak dari bahan bakar lain.

Harga premium juga mengalami kenaikan sejak masa pemerintahan Presiden Soeharto. Harga Premium pernah mencapai 500 rupiah per liternya. Setelah era reformasi dan pasca terjadinya krisis ekonomi, harga Premium terus naik hingga kini mencapai 7.300 rupiah per liternya.

Premium diproyeksikan akan digantikan dengan bahan bakar yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan. Program ini telah dimulai sejak 2015 ketika pemerintah mengeluarkan Pertalite, bahan bakar kendaraan bermotor dengan RON 90, harga lebih terjangkau dari Pertamax namun kualitasnya lebih bagus. Rencana penghapusan Premium ini memang dilakukan secara bertahap. Peraturan ini diberlakukan, selain untuk mengurangi jumlah subsidi pada APBN juga untuk tercapainya penerapan standar Euro 4 dalam beberapa tahun ke depan. Saat ini Indonesia masih menggunakan BBM dengan standar Euro 2. Peluncuran Pertalite dengan RON 90 ini merupakan langkah awal pemerintah untuk menyamakan standar Euro 4, dimana kadar terendah bahan bakar minyak yang digunakan adalah RON 91.

Harga Premium yang relatif murah memang menjadi faktor utama bahan bakar ini begitu populer. Dengan harga murah, Premium dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat hingga yang paling bawah. Kelebihan dan kekurangan Premium dapat ditinjau dari beberapa sudut pandang, di antaranya

  • Teknologi

Bahan bakar Premium rawan menyebabkan knocking jika terus menerus digunakan pada mesin berkompresi tinggi. Premium dalam mesin kendaraan bermotor akan terbakar dan meledak jika tidak sesuai dengan gerakan piston. Knocking bisa menyebabkan tenaga mesin berkurang sehingga mengakibatkab pemborosan dalam bahan bakar.

  • Ekonomi

Dari segi harga, Premium memang bahan bakar yang paling murah dari produk bahan bakar Pertamina lainnya. Namun jika terjadi knocking berkepanjangan pada mesin akan mengakibatkan kerusakan pada piston sehingga komponen tersebut harus lebih cepat diganti. Penggantian piston ini merupakan suatu inefisiensi akibat penggunaan Premium

  • Polusi

Seperti yang sudah disebutkan di atas, Premium menghasilkan emisi gas Nox dan Cox dalam jumlah yang besar. Gas ini dihasilkan dari pembakaran mesin dan akan menghasilkan polusi jika sudah dilepaskan ke udara.

  • Pembuatan

Premium dalam pembuatannya lebih banyak menggunakan komponen lokal. Selain itu Premium mengandung campuran pewarna yang cukup banyak hingga menghasilkan warna kekuningan. Premium mengandung sulfur maksimal 0,15 persen m/m atau setara dengan 1500 ppm.

Premium memang berencana digantikan oleh Pemerintah. Namun distribusi Pertalite sebagai bahan bakar baru pengganti Premium juga belum merata hingga ke wilayah pelosok Indonesia. Oleh karena itu tidak heran jika Premium masih banyak digunakan di wilayah pinggiran. Meskipun demikian berbagai upaya tetap dilakukan pemerintah demi pemerataan distribusi Pertalite. Upaya ini dapat dikatakan memberikan hasil positif, mengingat laporan Pertamina pada bulan September 2016 yang mencatat bahwa konsumsi BBM jenis Pertalite meningkat secara signifikan di kuarter kedua tahun 2016. Secara nasional, penggunaan bahan bakar Premium terus menurun dan tinggal 40 persen dari total konsumsi gasoline di seluruh Indonesia. Jumlah ini cukup signifikan mengingat pada pertengahan 2015 total konsumsi Premium masih ada pada angka 79 persen. Peningkatan penjualan Pertalite dan juga Pertamax terjadi di peak season atau saat libur panjang, yakni hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Perubahan ini, menurut Pertamina, bukan semata karena aturan pemerintah. Namun konsumen BBM-lah yang semakin cerdas dan memilih produk yang lebih berkualitas sebagai bahan bakar kendaraan mereka sehari-hari.